The One Place For You LIVE, WORK, PLAY & LEARN

Kehidupan manusia memang tidak dapat dihentikan. “Life finds a way”, demikian kutipan kata bijak dari sebuah film Hollywood beberapa waktu lalu. Ketika kita semua dihadapkan pada satu arah pandangan yang negatif, berarti pada saat tersebut kita harus mulai menoleh dan melihat sisi terang di sebelahnya. Berbagai terobosan baru untuk hal-hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya pun tercipta dan menjadikan banyak hal baru untuk dijelajahi dan dimengerti. Hal ini menyentuh hampir semua aspek kehidupan dan sekali lagi mengajak manusia untuk berevolusi untuk kemajuan dan keselamatan bersama. Kebiasaan dan pola hidup yang lebih bersih telah menjadi gaya hidup baru di seluruh dunia, tentunya di kota Jakarta tercinta. Saat ini, dengan mudah ditemukan wastafel cuci tangan, serta penyediaan cairan pencuci tangan (hand sanitizer) di depan pusat keramaian, sekolah, bahkan rumah kita. Kita juga semakin terbiasa untuk lebih sering mandi setelah beraktivitas di luar ruangan.

Selain itu, kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang diterapkan di banyak daerah juga telah menghasilkan pola hidup baru. Salah satu dampak yang ditimbulkan adalah kegiatan perkantoran yang terhenti, sehingga kalangan pekerja terpaksa bekerja dari rumah. Akhirnya kita mulai membiasakan diri dengan sebuah kebiasaan baru, atau salah satu bentuk kenormalan baru atau new normal bernama work from home.

Selama berbulan-bulan bekerja dari rumah, telah membawa kita kepada sebuah rutinitas yang berbeda sama sekali. Umumnya generasi muda lebih mampu menyesuaikan diri dengan bekerja di rumah. Jauh sebelum pandemi pun, kalangan profesional muda termasuk yang bekerja di lingkungan startup telah membuat makna kantor semakin cair. Ketika bekerja di rumah tidak perlu mengenakan pakaian rapi, kecuali jika harus menghadiri meeting daring. Bekerja dari rumah juga membuat kita memiliki lebih banyak waktu karena tidak perlu capekcapek menghabiskan waktu di jalan, serta terbebas dari kemacetan ibu kota. Bekerja dari rumah juga membuat seseorang lebih produktif karena bisa fokus bekerja sehingga dapat memanfaatkan waktu secara lebih efektif dan efisien.

Tapi di lain sisi, bekerja dari rumah juga tidak disukai sebagian orang karena membuat waktu bekerja menjadi lebih panjang dan sering tidak kenal waktu. Belum lagi, bagi sebagian orang sulit untuk mendapatkan atmosfer dan suasana kerja yang mendukung, sehingga mudah terdistraksi dengan pekerjaan domestik atau gangguan selama berada di rumah. Meski akhirnya secara perlahan mulai diterima, tetap saja pola hidup baru itu butuh pembiasaan.

Ketika fase pembatasan sosial berakhir, budaya kerja dari rumah akhirnya perlahan telah jadi kebiasaan (habit) baru. Pakar psikologi kesehatan dari University College London, Philippa Lally pernah menyebut kebiasaan yang dilakukan secara rutin selama lebih kurang 66 hari akan menjadikan kebiasaan seseorang sebagai sebuah habit. Model bekerja dari rumah ini juga layak disebut sebagai sebuah habit baru. Sejumlah bidang pekerjaan tetap dapat beroperasi dengan melakukan remote pekerjaan dari rumah. Dari sudut pandang perusahaan, sistem kerja dari rumah tentu saja jauh lebih menguntungkan karena dapat menghemat pengeluaran tertentu, selain juga menekan risiko terpapar virus. Karena hal ini pula, sejumlah perusahaan di Jakarta pun akhirnya membuat survei kepada karyawan tentang kemungkinan melanjutkan sistem work from home ini di kemudian hari.

Nah, bagaimana jika di masa depan, kita sungguh akan semakin menemukan bidang pekerjaan yang meminta karyawannya bekerja dari rumah? Bagaimana jika konsep bekerja yang dalam persepsi banyak orang dilakukan di kantor, pada tahun-tahun berikutnya, sungguh akan menjadi sebuah hal yang akhirnya biasa dan sudah jadi normal baru jika melihat orang bekerja dari rumah?

Meski model kerja dari rumah sudah dijalani sebagian pekerja di Jakarta, untuk membuat sistem kerja ini efektif, harus ada kesiapan untuk membuat rumah yang kita huni, nyaman untuk digunakan bekerja. Bagaimana mungkin kita akan menghasilkan pekerjaan yang maksimal tanpa didukung oleh mood baik yang berasal dari suasana rumah yang seketika kita sulap jadi tempat bekerja?

Jauh sebelum pandemi ini merebak, menghadirkan konsep rumah yang nyaman, aman, dan mendukung setiap komunitas di dalamnya untuk saling bekerja sama sebetulnya sudah jadi konsep gaya hidup yang ingin dihadirkan Permata Hijau Suites. Tempat tinggal yang baik harus menjadi ruang bagi manusia yang ada di dalamnya untuk dapat melakukan kegiatan hidup, bekerja, bermain, dan belajar. Individu manusia yang ada di dalamnya membuat ruang tempat mereka tinggal terasa hidup dan bernyawa. Sehingga tidak ada rasa bosan untuk mengerjakan apa saja dari rumah.

Namun, tidak semua hunian mampu menghadirkan sebuah ekosistem yang dirindukan penghuninya. Sebuah ekosistem yang ideal untuk ditempati sudah selayaknya membuat orang-orang yang beraktitivitas, berinteraksi, bersosialisasi di dalamnya akan menciptakan sebuah relasi yang produktif dan interaktif.

Obrolan antar-manusia di dalamnya juga tidak akan pernah tercipta tanpa ruang yang memungkinkan untuk melakukan hal itu. Dari pertemuan orang-orang terpilih, juga akan membentuk relasi antar-individu yang memiliki kualitas hidup yang serupa. Mereka yang mengusung nilai, visi, dan pandangan hidup yang sama, akan membuat ikatan secara alamiah dan organik, sehingga akan muncul interaksi yang bisa melahirkan sesuatu.

Berawal dari obrolan berkualitas akan mencetuskan berbagai kreativitas yang tidak terbayangkan akan berlansung dengan seseorang di tempat tinggal sendiri. Pada tahap itulah, bekerja dari rumah, bukan lagi jadi sebuah persoalan. Karena rumah bukan lagi sekadar ruang atau benda mati yang tidak berkontribusi apa-apa bagi manusia. Rumah harus dibayangkan sebagai arena kreativitas, serta membuat keterikatan yang organik dan produktif bagi manusia dengan intelektualitas yang sama. Interaksi yang unik dari kelompok ini adalah mereka sangat suka untuk mencapai kesuksesan bersama dengan mengangkat dan mendukung satu sama lain.
(PHS/DP)

“Home isn’t a place, its a feeling” Cecelia Ahern

 

Download PDF