Jakarta dan Hunian Idaman


Jakarta dan Hunian Idaman

Waktu akan menulis ini, saya membawa benak mundur 11 tahun ke belakang. Pertama kali menjejak Jakarta modal satu ransel isi baju dan ijazah, berbekal surat panggilan tes kerja. Mungkin kalau waktu itu saya sudah sadar selfie, saya jadi punya kenang-kenangan satu fase hidup. Perempuan, 22 tahun, baru lulus kuliah, menanggung tas di punggung, kucel, layu, kelelahan, tapi sinar matanya penuh harapan.

Jakarta!

ilustrasi foto. #red

Saya dan jutaan orang dari kota/desa lain menggantungkan cita-cita yang luar biasa besar di Jakarta. Demi cita-cita itu, saya cari kos-kosan seadanya, bolak-balik ikut tes masuk, makan mie instan demi menghemat uang. Untung saja, setelah beberapa kali tes, saya termasuk beberapa yang diterima.

Setelah diterima, saya terus pindah cari kos-kosan di dekat kantor. Beberapa kali pindah tempat, tapi selalu nyantol di daerah Kebayoran Baru-Kebayoran Lama. Pernah duluuu banget ngekosnya di daerah Salemba, Jakarta Pusat, namun setelah dirasa-rasa pakai hati yang terdalam, kok kurang nyaman. Beda-beda memang tiap orang, tapi saya percaya quote entah dari siapa yang bilang gini, “Tempat tinggal itu masalah jodoh, datangi, rasakan suasananya, periksa lingkungannya, lalu tanya hati benar-benar, apakah cocok atau tidak.”

Khusus untuk frasa “cocok”, penjelasannya bisa panjang kali lebar kali tinggi. Bukan cuma soal perasaan, tapi juga soal kemampuan. Saya contohnya, kepingin banget punya rumah di Jakarta. Pingin pake banget. Sayang, kemampuan menerbangkan saya tinggi-tinggi, lalu saya dijatuhkan di daerah Tangerang Selatan. Hahaha.

Sementara ini saya menikmati dan bahagia dengan rezeki yang sekarang tentu saja. Tapiii, angan-angan untuk punya tempat tinggal di Jakarta belum sirna. Mungkin nanti. Semoga nanti.

Kenapa mau tinggal di Jakarta, Re?

Karena aktivitas yang berhubungan dengan kerjaan dan keriaan lebih banyak di Jakarta. Tiap minggu saya pasti ke Jakarta, entah soal kerjaan, soal sosialisasi, atau sekedar me time menyepi dari keriuhan rumah. Jalur saya juga hampir selalu pasti, Stasiun Sudimara – Stasiun Palmerah. Dari Palmerah baru deh saya ganti alat transportasi lain, entah TransJakarta atau ojek/taksi online. Disesuaikan dengan kebutuhan saja.

Pernah, karena keenakan saya ga sadar laptopan sampe kemaleman di mal. Pas beres-beres, baru kerasa kalo badan udah pegel banget, mata ngantuk banget, kaki rasanya males dibawa jalan. Lelahnya maksimal. Pas lagi ngerasain yang begitu, keinginan untuk tinggal di Jakarta rasanya makin membara. Pasti enak kalau cuma perlu naik angkutan dalam jarak pendek menuju rumah.

Pernah lagi, saya ada kerjaan dua hari berturut di Jakarta. Saking malesnya ngebayangin pergi pagi-pulang malem, saya nyari penginapan di Jakarta, dong! Ada pengeluaran ekstra jadinya, tapi gapapa, yang penting ga mateng di jalan, tidurnya juga lebih berkualitas, ga buru-buru bangun buat ngejer kereta. Pas begitu, saya ngebayangin, sesekali tinggal di Jakarta aja enaknya maksimal kaya gini, gimana lagi rasanya kalau punya hunian buat tinggal selamanya.

kamar yang disulap jadi kantor & ruang baca

Ngomong-ngomong soal hunian di Jakarta, minggu lalu saya dan beberapa teman diajak untuk liat show unit Permata Hijau Suites. Sesuai namanya, lokasi apartemen ini ada di Permata Hijau, persisnya di Jalan Raya Kebayoran Lama. Masuknya masih di kawasan Jakarta Selatan, tapi udah deket banget ke Jakarta Barat.

Lokasi apartemennya ini #NyataDekatnya dari tempat saya biasa beraktivitas, FX Mal – Senayan – Palmerah.  Kemarin kami sama-sama nyobain perjalanan dari Senayan City Mal ke Permata Hijau Suites. Deket beneran, lho. Baru muter beberapa lagu, udah sampai ke lokasi.

Untuk pengguna kendaraan umum, lokasinya mudah dijangkau dengan TransJakarta koridor XIII, Koridor 8 jurusan Lebak Bulus – Gajah Mada.  Akses layang koridor XIII (Tendean – Ciledug) yang akan beroperasi dalam waktu dekat.  Plus ada juga pengembangan LRT Koridor I Kebayoran Lama – Kelapa Gading dan Koridor VII Kemayoran – Bandara Soekarno Hatta.

pantry & ruang makan

Permata Hijau Suites ini terdiri dari dua tower, Ebony (320 unit) dan Ivory (329 unit). Tiap unitnya bersertifikat strata title di atas tanah HGB. Apartemen akan dilengkapi dengan lahan parkir podium dan basement masing-masing terdiri dari 4 lantai.

Tiap lantai tower apartemen hanya dihuni 10 unit saja, jadi ga terlalu ramai juga. Varian unitnya sendiri ada yang terdiri dari 1 kamar tidur (40,86 m2), 2 kamar tidur (60,29 m2) dan 3 kamar tidur (91,69 m2). Seandainya apartemen 3 kamar tidur masih kurang besar, ada pilihan untuk combo/penggabungan unit 2 kamar tidur dan 3 kamar tidur.

Oh iya, unit yang dijual dalam keadaan kosong, ya. Fasilitas yang sudah disediakan ada lantai marmer di tiap ruangan (kecuali kamar mandi) dan air conditioner untuk setiap kamar.  Tiap unit juga punya fasilitas balkon. Balkon beneran, bukan ala-ala. Balkonnya bisa dipakai buat gantungin bunga-bunga atau pohon biar adem dan berasa living in a perfect harmony. Deketnya dapet, lokasi strategisnya dapet, dan nyamannya juga dapet.

Sekarang masuk ke informasi yang terpenting, harga! Permata Hijau Suites menawarkan harga mulai 1 hingga 2,5 milyaran atau sekitar 24 jutaan per m2 . Sekarang ini apartemen sudah terjual sekitar 65%-nya. Kalau tertarik, pas banget sepanjang Oktober ada program OctoVest yang kasi kesempatan konsumen untuk mendapatkan cicilan down payment ringan dan investasi tambahan dalam bentuk logam mulia hingga senilai Rp 40 juta.

Supaya dapat informasi lebih lengkap tentang Permata Hijau Suites, bisa cek juga akun sosial media mereka di: Instagram, Twitter, dan Facebook. Kalau informasi online belum memuaskan, baiknya langsung aja ke lokasi, ngobrol langsung dan nyobain duduk-duduk cantik di show unitnya. Bisa jadi, Permata Hijau Suites itu jodohnya kamu. 🙂

/salam Jakarta

 

Sumber

Penulis adalah seorang blogger di www.atemalem.com