Babak Baru Diaspora Indonesia Ketika Pulang, Sedia Investasi Properti Sebelum Kembali


Babak Baru Diaspora Indonesia Ketika Pulang, Sedia Investasi Properti Sebelum Kembali

Menikmati hujan emas di negeri orang boleh jadi ungkapan yang tepat menggambarkan kehidupan diaspora Indonesia di luar negeri. Tapi, bagaimana jika suatu hari diaspora harus kembali ke tanah air sementara belum menyiapkan payung pelindung berupa kebutuhan papan seperti tempat tinggal?

Anindya Pramuditha (49) sudah sebelas tahun terakhir menetap di London. Ia bersama suaminya seorang bankir dan tiga orang anak mereka kerap berpidah-pindah negara. Hidup sebagai keluarga diaspora membawa perubahan besar dalam hidup Anindya.
Menyeberang berbagai benua dan dalam lima tahun harus berpindah-pindah negara. Terlalu sering adaptasi, Anindya lebih mengutamakan anak-anaknya fasih berbahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Selain itu, rencana membeli investasi selalu ditunda karena ketidakpastian penempatan tugas suami. Alih-alih memulai investasi properti, Anindya malah menjual rumahnya di bilangan Pondok Indah, Jakarta Selatan.

“Waktu itu, pikiran saya tidak ada yang urus rumah, gampang, nanti beli lagi kalau suami sudah pulang tugas. Daripada repot dan malah kepikiran kalau harus balik untuk urus,” kenang Anindya.
Titik baliknya terjadi ketika kondisi kesehatan sang suami yang mengharuskan mereka kembali ke Indonesia. Ibarat selama ini sudah menikmati hujan emas, namun kini saatnya kembali berhadapan dengan hujan batu. Celakanya, keluarga kecil Anindya sama sekali belum mempersiapkan rencana tempat tinggal mereka jika harus pulang ke Indonesia.

Keadaan ini memaksa Anindya untuk membeli properti seadanya karena kesulitan mencari tempat tinggal dengan harga dan fasilitas yang mereka harapkan.

Pengalaman seperti yang dialami Anindya sangat mungkin menimpa sejumlah diaspora dengan kondisi serupa. Saat menghadapi kenyataan harus kembali ke Indonesia dalam waktu lama, namun luput mempersiapkan kebutuhan tempat tinggal. Sejumlah persoalan baru pun sudah di depan mata. Salah satunya kesulitan mencari tempat tinggal karena keterbatasan tanah dan pertambahan penduduk. Persediaan tanah di tengah kota sudah tentu makin lama makin sedikit dan mengakibatkan pertambahan harga, sehingga dengan harga yang sama secara luasan tentu lebih kecil dari nilai tukar tahun-tahun sebelumnya. Belum lagi harga rumah yang kian melambung tinggi dan tidak tersedianya rumah dinas setelah kembali bagi diaspora yang bekerja di sektor non-formal.

Tantangan di atas bukanlah sebuah hal bohong dan dapat diabaikan, baik bagi diaspora yang masih aktif bertugas atau bagi mereka yang berencana menjadi diaspora. Namun sebuah tantangan tentunya tidak boleh menghambat dan justru menjadi sebuah pemicu untuk memastikan masa depan yang lebih baik dengan mengambil tindakan yang tepat pada waktu yang tepat juga. Pertanyaan yang tentunya hadir adalah kapan waktu yang tepat dan aman untuk berinvestasi dalam bidang properti?

Kapan Waktu yang Tepat untuk Berinvestasi?
Sebelum masuk ke dalam jawab dari pertanyaan tersebut diatas, perlu digali terlebih dahulu bagaimana gambaran taraf kehidupan diaspora Indonesia pada umumnya di luar negeri.
Diaspora Indonesia yang pergi keluar negeri, baik dalam bentuk penugasan tugas negara atau sektor non-formal, pada umumnya menerima upah dalam bentuk mata uang asing umumnya dollar, ditambah lagi berbagai tunjangan yang memang diberikan untuk memudahkan tugas dan kehidupan mereka di tempat tugasnya. Nilai yang diberikan oleh perusahaan ini tentunya lebih tinggi dari apa yang diperoleh oleh rekan kerja mereka di Indonesia, sehingga tidak jarang diaspora Indonesia sering disebut “karyawan dengan gaji paling special.” Dari sini dapat dilihat bahwa selama masa produktif penugasan, diaspora sangat dimampukan untuk menabung dan mempersiapkan investasi masa depan mereka dengan lebih baik lagi.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ivonne Suwandi selaku General Manager Marketing Permata Hijau Suites, “Masa produktif adalah masa yang paling tepat dan bijak untuk berinvestasi di bidang properti. Tabungan dalam bentuk mata uang asing seperti dollar tentunya memiliki nilai tukar lebih tinggi, jika disisihkan dengn bijak, dapat dipergunakan untuk membeli properti di tanah air. Untuk menjaga nilai yang diterima, nilai tukar juga “dapat dikunci” dengan menginvestasikannya di dalam bidang properti bahkan nilainya akan digiring naik seiring dengan pertambahan nilai harga tanah.”

Di sisi lain, apabila diaspora Indonesia membeli properti pada saat masih bertugas, ada manfaat ganda yang didapat, yaitu nilai sewa yang diterima dari properti yang dimiliki selama belum dipergunakan.

Hunian yang Cocok untuk Diaspora
Umumnya pengalaman diaspora di berbagai negara dengan banyak penduduk tinggal di hunian vertikal. Keluarga Anindya misalnya, menetap di kawasan apartemen di pusat kota London. Pengalaman puluh tahun tinggal di apartemen ini membuat rata-rata diaspora memilih investasi untuk properti jenis apartemen.

Lifestyle yang sudah terbentuk selama bertugas di negera lain tentunya tidak akan bisa berubah dalam waktu semalam ketika diaspora kembali ke tanah air. Untuk itu ketika kembali ke tanah air, sudah tentu diaspora akan mencari hunian yang dapat mempermudah mereka melanjutkan lifestyle yang sudah biasa mereka jalani sebelumnya teruatama pada masa penyesuaian. Seperti, apartemen yang harus dekat dengan pusat ekonomi, kantor pemerintahan, sekolah, hingga komunitas internasional

Untuk menjawab kebutuhan diaspora tersebut, Permata Hijau Suites hadir sebagai alternatif hunian ekslusif yang cocok profil dan kebutuhan diaspora dengan standar internasional. Dimulai dari sisi lokasi, Permata Hijau Suites berada di ring 1, dengan radius 2,5 hingga 5 kilometer dari Kawasan Senayan, Semanggi, dan Sudirman Central Business District (SCBD).

Tak hanya relatif dekat ke kawasan Jakarta Pusat, Permata Hijau Suites yang berada di bilangan Jakarta Selatan berada di segitiga emas SCBD, Pondok Indah, dan Puri Indah.

Tak hanya dari sisi lokasi, Permata Hijau Suites juga dikelilingi fasilitas publik dan area komersial seperti Gelora Bung Karno, Plaza Senayan, Senayan City, Hotel Mulia Senayan, Fairmont Hotel, dan juga pusat pendidikan bertaraf internasional seperti Eton dan Binus. Untuk melengkapi kebutuhan diaspora,

Komunitas internasional juga telah mulai terbentuk di Permata Hijau Suites. Saat ini telah bergabung pemilik unit dari enam kebangsaan asing yaitu Australia, Inggris, Perancis, Italia, Spanyol dan Jepang. Ivonne menginformasikan bahwa saat ini sejumlah diaspora Indonesia di sebelas negara, antara lain Singapura, Malaysia, Vietnam, Filipina, Thailand, China, Dubai, Abu Dhabi, Jepang, Jerman, dan Belanda, sudah memutuskan berinvestasi di Permata Hijau Suites.

Merujuk pada pengalaman keluarga Anindya, penting bagi diaspora dari berbagai latar belakang untuk mempersiapkan rencana ketika tugas telah selesai dan diaspora harus kembali ke tanah air, dengan rencana investasi yang tepat niscaya kesulitan mencari hunian yang layak di tengah kota tentu sudah teratasi

Ivonne mengundang diaspora Indonesia untuk segera menyiapkan investasi tanpa harus menunggu sinyal akan kembali.

Bagi Ivonne, sangat disayangkan untuk memutuskan memiliki hunian ketika masa tugas berakhir. “Kebutuhan tempat tinggal mau tidak mau harus tetap diutamakan karena merupakan kebutuhan pokok (primer)” tutupnya. (Dodi Prananda)

 

Download Artikel